Memacu Anak Gemar Membaca

Setiap anak, sejauh lahir dalam keadaan mental yang normal, adalah genius-genius besar yang sudah dibekali Alloh dengan percaya diri tinggi, semangat besar, antusias dan senantiasa belajar,” kata Ust. Fazil Adhim.

Awalnya adalah membaca. Anak-anak yang sedari kecil terbiasa membaca akan mampu menyerap, menyaring, mengolah dan memaknai informasi. Semakin sering mereka membaca buku-buku yang bergizi, teratur, dan baik penuturannya, kemampuan berfikir mereka akan lebih matang dan tertata. Mereka memiliki kerangka berfikir yang kukuh dan rapi,” Saran Ust. Fauzil Adhim. Continue reading “Memacu Anak Gemar Membaca”

Karena Setiap Kita Adalah Mutiara

Karena Setiap Kita Adalah Mutiara


Ia nya menjadi indah
Oleh pengorbanan menjemputnya
di palung samudera
juga oleh waktu yang membentuknya

Seperti dirimu yang juga indah
Oleh pengorbanan yang kau baktikan
Pada sesama

Sungguh engkau indah
Karena engkau adalah
Mutiara

 

 

Mutiara

Awalnya ia bukan apa-apa.

Hanya butiran pasir dan debu kotor yang tak ada harganya.

Waktu yang kemudian membentuknya:

detik demi detik, di kedalaman samudera, dalam kegelapan cangkang makhluk-Nya.

Dengan proses yang demikian panjang dan pelan, penuh kesabaran.

Pun kemudian, keindahannya juga tak dapat segera dinikmati begitu saja.

Karena ia harus dijemput di kedalaman lautan, dikeluarkan dari rumahnya yang kokoh dan dibersihkan, disepuh dan diolah hingga menjadi perhiasan istimewa.

Sungguh sebuah proses yang panjang dan melelahkan,

bahkan bukan tidak mungkin terhenti di tengah jalan.


            Mungkin engkau pernah merasa dirimu bukanlah apa-apa saat ini. Bahkan bisa jadi lebih dari itu, engkau membenci dirimu sendiri, sebagai manusia tak berguna, makhluk sia-sia.
Begitu banyak k

ekurangan, begitu banyak kesalahan dan keburukan. Apalagi ketika kau melihat orang lain yang nampak begitu sempurna dan memiliki begitu banyak kelebihan, rasanya engkau makin ingin tenggelam. Mengapa orang lain memiliki begitu banyak kelebihan sedang aku tak memiliki apa-apa kecuali kekurangan? Mengapa aku buruk sedang orang lain cakep? Mengapa orang lain berhasil dan aku selalu gagal? Mengapa orang lain kaya dan aku miskin? Serta beribu ‘mengapa’ lainnya yang akan membuat kita kecewa dan terluka, serta terpaku pada kekurangan-kekurangan yang kita miliki.

            Padahal, saya percaya, setiap kita tahu dan yakin, bahwa Allah tidak mungkin menciptakan makhlukNya hanya dengan kekurangan saja atau kelebihan saja. Hanya dengan madharat saja tanpa manfaat atau sebaliknya. Pun kita manusia, pastilah memiliki keduanya dalam porsi yang imbang. Dia yang maha kuasa membekali manusia dengan segala kelebihan, menjadikan setiap insan memiliki keistimewaan. Hanya saja proses hidup yang kita alami mungkin telah membuatnya hanya menjadi potensi terpendam, tak muncul ke permukaan, bahkan mungkin ia, sekalipun ia pernah muncul di masa kecil kita, kemudian terkubur oleh segala tekanan dan rintangan.

            Padahal, ibarat mutiara, kita tak dapat menjadi berharga begitu saja. Kita butuh waktu untuk membentuknya. Kita butuh proses panjang untuk mendapatkan keindahannya. Dan proses ini, butuh ketelatenan dan kesabaran.

            Ya, sesungguhnya setiap kita adalah mutiara yang memiliki pancaran keindahan kita masing-masing, seperti apapun adanya kita pada awalnya. Kita hanya harus menyepuhnya untuk membuatnya menjadi berharga. Dan proses menyepuh ini, banyak cara dan jalannya.

            Rintangan, hambatan, pengalaman, pembelajaran, baik oleh diri sendiri maupun oleh orang lain, tidak akan menjadi masalah. Karena pada dasarnya kita adalah mutiara. Kita hanya harus berusaha semaksimal kita, membuka mata, buka telinga dan buka hati.

            Hanya satu awal yang perlu kita lakukan: itikad dan keyakinan untuk menjadi mutiara. Sungguh saya ingin menjadi mutiara, melalui berbagi dan berbakti pada sesama. Engkau? Menjadi mutiara seperti apa yang engkau inginkan?

 

Menjadi Guru (adalah) Pilihan

….
Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu…

 

Penggalan lagu himne guru tersebut rasanya cukup untuk menggambarkan kemuliaan profesi seorang guru. Tanpa harus melanjutkan isi syair lagu diatas kita semua pasti setuju dengan pernyataan bahwa guru adalah profesi mulia dengan gelar pahlawan tanpa tanda jasa, walaupun maaf gajinya masih kalah dari profesi yang sering disebut “pahlawan devisa” 😀

Namun menjadi guru adalah pilihan hidup, pilhan profesi, pilihan yang memang kita pilih sebagai jawaban kepada Allah Swt, jika di akhirat ditanya tentang kauhabiskan untuk apa waktumu? IDEALIS??? Memang… Continue reading “Menjadi Guru (adalah) Pilihan”