Dongeng Pendek tentang Kota-Kota dalam Kepala

Cerpen oleh Darwanto, S.Pd.I

(dimuat di koran harian Jawa Pos 13 Maret 2011)

Kota Tungku

Entah sejak kapan kota itu tumbuh dalam kepalaku. Tepatnya di ceruk mata. Aku pernah terdampar di kota itu, mengalami dahaga yang sangat. Hingga kota itu, bagai wajib kukisahkannya….

Di kota itu matahari memang tampak lebih besar dari yang seharusnya. Di kota itu, sungai-sungai dan perigi menganga bagai mangkuk tanpa isi. Satu per satu pepohonan mati, terberangus pelan-pelan tanpa seorangpun menyadarinya. Mereka hanya tahu, tiba-tiba pohon itu kering. Dan tak ada lagi tempat berteduh. Trotoar-trotoar berselimut debu dan asap yang warnanya kelabu. Di kota itu, matahari hampir tak tidur. Siang hari terasa lebih lama, lima kali lipat dari seharusnya. Di kota itu, di mana-mana akan terdengar orang mengeluhkan cuaca dan air. Bahkan AC pun tak bisa berfungsi di kota itu. Air minum, mandi, dan mencuci, semuanya menghangat oleh cuaca. Setiap hendak mandi, orang-orang harus mencari es batu untuk mendinginkan air.

Orang-orang di kota itu selalu berkeringat dan lengket. Setiap jam mereka mandi dan meneguk air es. Namun tetap saja, mereka berkeringat dan lengket.

Continue reading “Dongeng Pendek tentang Kota-Kota dalam Kepala”

Di Kolong Langit Jeddah yang Pucat

Cerpen oleh Darwanto, S.Pd.I

(dimuat di koran harian Malang Post tanggal 6 Maret 2011)

Kau rasakan layar kecemasan mengembang di wajahmu yang kuning pucat. Seperti siluet senja yang melesat di antara punggung Gunung Radwa dan Abha yang kelabu. Kau teringat nenekmu yang sebatang kara di negeri seberang. Kau teringat wajahnya yang cekung, atau punggungnya yang membungkuk karna saban hari merangkak mengambah alas Watu Gilang untuk memunguti ranting-ranting kering, atau geguguran daunan jati. Nenekmu hanya seorang buruh tani yang ketika menunggu musim panen sama halnya dengan menunggu lebaran tiba. Bila musim tanam selesai, nenekmu selalu merangkak menyisiri hutan-hutan di kaki Gunung Wilis, untuk segendong kayu bakar atau segepok daun jati yang nantinya akan ia tukarkan dengan beras dan minyak curah. Ah, kau benar-benar merindukannya.
Continue reading “Di Kolong Langit Jeddah yang Pucat”

Laron

Cerpen oleh : Darwanto, S.Pd.I

(dimuat di harian KOMPAS tanggal 6 Maret 2011)

Sedari pagi hujan terus mericis. Hingga menjelang magrib baru liris, menjadi gerimis-gerimis tipis. Ketika langit mulai gelap, dan lampu-lampu rumah dinyalakan, hujan sudah sempurna reda. Satu dua laron mulai muncul dan berputar-putar mengitari lampu di teras rumah. Semakin lama semakin banyak. Bahkan, beberapa sudah mulai menghambur ke dalam rumah, melewati ventilasi dan celah-celah pintu jendela.

laronTanpa sepengetahuan bapak, aku membuka pintu depan, sedikit, supaya laron-laron itu bisa masuk ke dalam rumah, dan bisa kuajak bermain dan berbincang-bincang. Tak kurang dari satu menit, laron-laron itu sudah memenuhi ruang tamu, dapur, dan kamar-kamar. Berputar-putar berebut cahaya. Sayap-sayap kecil mereka bertebaran di mana-mana bagai potongan-potongan kertas yang sengaja disemburatkan di pesta ulang tahun atau perayaan-perayaan.

Aku berteriak girang sambil meniupi sayap-sayap laron yang luruh ke lantai. Indah sekali. Aku membayangkan saat itu sedang hujan sayap, sayap peri. Tapi, tiba-tiba bapak muncul dari kamarnya dan berteriak-teriak. Aku mengkerut.

Continue reading “Laron”

Ode Sebuah Perjalanan (Sebuah Cerpen Persembahan untuk Hari Ibu)

Cerpen Mashdar Zainal

Malam itu, kau bersila di loteng rumah kostmu yang amburadul, beratap angin, disangga kursi plastik yang mulai rapuh oleh perjalanan musim. Malam itu, kau bercermin pada langit. Menemani bintang-bintang yang yatim. Menghibur rembulan yang kesepian. Atau mungkin mengejek kunang-kunang yang tak pernah bisa terpejam meski ia terkantuk-kantuk di tilam belukar.

Kedua tanganmu mendekap jilidan tebal, yang sesekali kau buka lalu kau tutup lagi. Lalu, kau tersenyum seolah-olah ditimpa kabar gembira. Hei! Tapi matamu basah. Apa kau terharu? Ah, kau layaknya seorang kafilah yang bahagia usai berjibaku menuntaskan rukun kelima.       Sekali lagi wajahmu tengadah, mematut di jentera langit, hingga kau temukan mayamu melebur, berbaur dengan  gemintang yang menggigil. Segudang kata, yang dulu sempat terkatung-katung di kepalamu, berjubal-jubal, kini telah kelar kau toreh di atas wajah-wajah kertas, beratus-ratus lembar. Maka draft tebal itu kau tenggelamkan lagi ke dinding dadamu, kau timang-timang serupa bayi cantik tak punya ibu.

***

Kau sudah memikirkannya masak-masak,  jikalau mimpi-mimpimu itu benar-benar mekar dan jadi bunga (tak hanya bunga di angan maya);  jikalau salah satu dari penerbit itu mau menerima naskahmu dan menerbitkannya menjadi buku, maka pada halaman persembahan, kau akan menyematkan beberapa kalimat. Kau telah merancangnya jauh-jauh, kalimat itu begini bunyinya: Karya sederhana ini saya persembahkan untuk seorang wanita yang tak pernah mengenal nama-nama huruf. Wanita yang selalu membajui hidupnya dengan sabar dan syukur. Mak, kaulah inspirasiku….

***

Continue reading “Ode Sebuah Perjalanan (Sebuah Cerpen Persembahan untuk Hari Ibu)”

Penari Topeng

Cerpen Darwanto, S.Psi.

(dimuat di Malang Post, 5 Desember 2010)

Ketika gendang dan rebana mulai ditalu, dan syair-syair mulai dilantunkan, lelaki itu pun mulai beranjak dari duduknya.  Sejenak ia membungkuk, memberi penghormatan kepada penonton, lantas ia mulai menggerakkan jari-jarinya yang lentik. Selendang tipis yang melilit di pinggangnya ia angkat perlahan, seolah hendak terbang. Ia pun mulai menari. Tarian yang begitu anggun. Lihat! Gerak tarinya selentik jari-jemarinya. Kakinya yang tertutup celana hitam hingga separuh betis juga tampak elok. Tak seperti kaki laki-laki. Kakinya begitu putih, seputih tanah botak yang menghampar di puncak  Pawitra. Siapa gerangan lelaki anggun itu? Bagaimana rupa wajahnya? Benarkah ia seorang lelaki?

Raden Inu Kertapati benar-benar dibuat penasaran oleh penari itu. Penari kentrung keliling yang selalu menari mengenakan topeng. Cukup aneh memang. Topeng itu tak pernah lepas dari wajahnya, bahkan ketika ia usai menari. Beberapa kali Raden Inu Kertapati mendekatinya—untuk sekedar bertegur sapa dan menyatakan kekaguman akan tariannya—namun  Raden Inu Kertapati tak pernah mendapat kabar lebih. Lelaki bertopeng itu selalu bicara di balik topengnya. Hanya tampak kedua matanya yang berkerling-kerling ketika bicara. Ia mengaku bernama Warga Asmara, seorang pengembara dari negeri antahberantah yang kebetulan singgah di Kahuripan. Ia bercerita bahwa hari-harinya ia habiskan dengan menghibur warga, menyampaikan pesan-pesan kehidupan lewat seni kentrung, dari desa ke desa. Setiap desa akan ia singgahi barang sehari-dua hari, begitu ia bercerita.

“Tapi, seingatku sudah hampir satu minggu kau singgah di Kahuripan. Aku senang kau betah di desa ini, menghibur warga dengan pertunjukan elokmu itu. Menyampaikan kearifan lewat syair dan tarianmu.” Raden Inu Kertapati terus menatap wajah bertopeng itu. Matanya memicing seperti mencerna sesuatu.

“Maaf. Kenapa Raden memandangi saya seperti itu?” Warga Asmara mulai merasakan kecemasan itu.

“Kenapa, ya? Kok rasa-rasanya aku pernah mengenalmu?”

Warga Asmara terdiam. Ia merasa bahwa Raden Inu Kertapati sedang menggali sesuatu tetang dirinya. “Oh, tentu Raden. Gambuh macam kami ini memang acap berlalu lalang di sembarang tempat. Jadi, tak heran kalau Raden merasa pernah mengenal saya.”

Raden Inu Kertapati manggut-manggut, menyepakati pendapat Warga Asmara.

“Oh, tiba-tiba aku memikirkan sesuatu.” Raden Inu Kertapati kembali mengangkat suara.

“Ya?”

“Sesekali kau harus datang ke balai istana. Orang-orang istana juga butuh hiburan. Aku yang mengundangmu. Bagaimana?”

“Saya? Ke istana Kahuripan?” Warga Asmara tercekat.

“Iya. Kau dan grup kentrungmu yang setia itu. Bagaimana?”

Bagai mimpi. Raden Inu Kertapati memintanya untuk datang ke istana dan menghibur orang-orang istana. Tawaran yang menggiurkan. Tapi… Warga Asmara punya sebuah alasan untuk menolak tawaran itu. Alasan yang tak mungkin bisa ia paparkan pada Raden Inu Kertapati.

“Jika kau menolak untuk datang ke istana, tolong berikan aku alasan yang tepat. Soal bayaran bisa dirundingkan, bukan?”

“Bukan itu Raden.” Mulut Warga Asmara seperti tersekap oleh topengnya. Dari balik topengnya ia menilik senyum kemenangan yang menyimpul di bibir Raden Inu Kertapati.

“Oh, ya, maaf, satu lagi, apa kau keberatan jika kuminta untuk membuka topeng?” tutur Raden Inu Kertapati samar-samar.

Warga Asmara tergelak, “O, kalau untuk yang satu ini, sepertinya saya akan mengecewakan Raden. Maaf.”

“Jenaklah, Warga Asmara! Aku takkan memaksamu.” Raden Inu Kertapati membenamkan sedikit kekecewaanya. Rasa penasarannya bertambah-tambah. Mungkinkah ia sosok Batara yang turun dari langit untuk membenahi kehidupan zaman yang koyak-moyak ini, dengan pesan-pesan bijak dalam tari-syairnya? Ataukah ia seorang mata-mata dari raja Daha, yang diutus untuk mengawasi perilakunya terhadap Galuh Ajeng, istrinya.

Memang fatal pertautan hati yang tak didasari budi bahasa, yang tak dilandasi oleh cinta. Meski lepas zaman berbulan-bulan Galuh Ajeng resmi menjadi istrinya, Raden Inu Kertapati sama sekali tidak menyentuhnya. Ia tak bisa. Tak akan bisa. Bagian hatinya (yang) untuk memanjakan wanita telah raib bersama hilangnya Galuh Chandra Kirana setahun lalu. Hanya Galuh Chandra Kirana satu-satunya gadis yang mampu menggetarkan hatinya. Suaranya, tutur lakunya, senyum tulusnya, benar-benar sikap seorang putri yang sebenar-benarnya putri. Bahkan membayangkan wajahnya saja hati Raden Inu Kertapati sudah bergetar hebat.

Meski bagaimanapun, tak ada manusia yang tahu teka-teki dari Sang Hidup. Begitu saja Galuh Chandra Kirana lenyap bagai tertelan bumi. Lantas ia dipaksa menikah dengan saudara tiri Galuh Chandra Kirana, Galuh ajeng. Siapa pula yan membisikan mantra ke palung benaknya. Begitu saja ia menerima Galuh Ajeng sebagi istrinya. Namun tetap saja, urusan hati bukanlah urusan yang bisa direkayasa. Lambat laun Raden Inu Kertapati pun insyaf, bahwa seseorang yang bisa menyematkan ketenangan di bilik hidupnya hanya Galuh Chandra Kirana seorang. Tak ada yang lain.

Berbulan-bulan, dengan sembunyi-sembunyi Raden Inu Kertapati melakukan pencarian, ke desa-desa, ke kampung-kampung asing di tengah belantara, bahkan hingga ke kerajaan-kerajaan jauh. Betapapun keras pencarian Raden Inu Kertapati, Galuh Chandra Kirana tak kunjung ia temukan. Hanya saja, satu hal yang ia yakini: detak jantungnya yang terus membunga. Ia benar-benar masih menyimpan decak-decak itu. Decak-decak yang mengabarkan bahwa sebagian hatinya masih nyata. Bukankan dua hati yang saling berkait itu tak ubahnya dua kutub magnet yang saling berinteraksi satu sama lain? Mereka hanya terpisah ruang. Raden Inu Kertapati yakin, bahwa suatu saat cinta yang tulus serupa itu, pasti akan dipertemukan. Hanya urusan waktu saja.

***

Warga Asmara dan iring-iringan grup kentrung telah singgah di istana Kahuripan. Raden inu kertapati meluangkan sebuah kamar untuk-tamunya itu. Warga Asmara harus benar-benar mempersiapkan dirinya. Mulai malam ini hingga dua atau tiga malam ke depan ia akan tampil di depan para punggawa istana. Ia bukan tampil di tengah kerumunan warga. Jadi, ia harus menyuguhkan penampilan terbaiknya.

Sesekali waktu, Warga Asmara dan grup kentrungnya berunding mengenai lagu dan lakon yang hendak mereka tampilkan. Raden Inu Kertapati pun telah mengumumkan kepada para punggawa dan semua pekerja-pekerja di istana, bahwa tiga hari ke depan akan ada hiburan kentrung yang manggung di balai istana. Mulai dari pejabat tinggi hingga tukang rawat taman, semua dipersilahkan hadir.

Maka, malam itupun pertunjukan dimulai. Para punggawan dan pekerja kerajaan telah berkumpul dibalai pertunjukan. Warga Asmara dan grup kentrungnya mulai beraksi. Gendang mulai ditabuh. Syair-syair mulai dilantunkan. Dan Warga Asmara pun siap dengan gerak tarinya. Dua kaki Warga Asmara mulai bergeser, mengangkang, serupa mengambil kuda-kuda. Kedua tangannya mulai terangkat dan meliuk-liuk, lehernya  mematah ke kanan dan ke kiri, sementara kedua matanya mengerjap-kerjap.

Sekali lagi Raden Inu Kertapati terpesona dengan lantunan itu, dengan tarian itu. Bukan hanya Raden Inu Kertapati, semua penonton pun tampak terperangah menyaksikan keluwesan Warga Asmara dalam menari. Tak sembarang laki-laki bisa melentikan tarian dengan begitu lihainya.

Dari balik topengnya, Warga Asmara dapat menyaksikan orang-orang bersorak, mengagumi lelakunya di atas panggung. Dari balik topengnya pula, ia bisa dengan leluasa menatap Raden Inu Kertapati yang duduk di garda paling depan. Ia melihat Raden Inu Kertapati tak berjeda kedip menatap dirinya. Ahai, tiba-tiba dadanya berdesir.

***

Raden Inu Kertapati yakin sekali mengenal sosok itu, sosok yang berkelebat dalam kepalanya namun sangat sulit untuk ia telusuri. Benar-benar ada sesuatu dalam diri penari topeng itu. Sesuatu yang muncul tenggelam dalam benaknya. Rasa penasarannya akan sosok Warga Asmara benar-benar memuncak ketika dirasainya ia mulai terpesona pada sosok penari itu. Maka, seusai pertunjukan, Raden Inu Kertapti mengundang Warga Asmara untuk makan malam bersama. Ia berharap, dengan cara itu Warga Asmara mau membuka topengnya.

Warga Asmara pun menghadiri undangan itu, dengan topeng yang masih menempel di wajahnya. Beberapa punggawa kerajaan menatapnya dengan tatapan aneh. Raden Inu Kertapati, Istrinya, Warga Asmara, dan beberapa punggawa kerajaan telah duduk melingkari meja makan yang megah. Berbagai macam hidangan dan buah-buahan telah disiapkan. Setelah berbincang-bincang ringan, dan Raden Inu Kertapati memberikan mukaddimahnya, makan malam pun dimulai.

Para hadirin mengambil porsinya masng-masing dan mulai menyantapnya. Raden Inu Kertapati terus melirik Warga Asmara, berharap melihat Warga Asmara melepas topengnya perlahan-lahan. Sementara Warga Asmara yang sedang diawasi tidak sadar kalau ia sedang diawasi. Setelah Warga Asmara menyelesaikan menu yang dipilihnya, ia duduk agak jenak, dengan perlahan ia mulai menyingkap topeng kayu yang menutupi wajahnya. Raden Inu Kertapati sudah berdebar-debar, tak sabar  ingin meihat wajah penari itu yang sebenarnya. Namun sungguh disayangkan, Warga Asmara hanya mengangkat topengnya sebatas mulut. Raden Inu kertapati hanya mampu menelanjangi bibir Warga Asmara yang begitu indah untuk ukuran bibir laki-laki.

“Kau yakin tidak ingin melepas topengmu, Warga Asmara?” telisik Raden Inu Kertapati.

“Segala Maaf saya haturkan, Raden.”

Raden Inu Kertapati tersenyum kecewa. Rasa penasarannya akan wajah yang tersembunyi dibalik topeng itu meletup-letup. Rasa penasaran yang menggelayutinya beberapa hari terakhir ini kini berubah menjadi kecurigaan. Pasti ada sesuatu yang tidak beres, pikir Raden Inu Kertapati. Mana mungkin ada seseorang yang begitu kukuh mempertahankan kedok kalau tidak ada apa-apa.

Maka, tengah malam, diam-diam Raden Inu Kertapati menjadi penyusup di istananya sendiri. Ia mengendap-endap serupa maling. Ia berjingkat mendekati kamar tamu, dimana ia mempersilahkan Warga Asmara dan rekan-rekannya untuk beristirahat.

Malam bertambah malam. Sepi berpadu-kawin dengan larut. Hanya suara-suara serangga malam yang begitu riuh, menguapkan nada-nada kesunyian. Dari lubang pintu, ia mengintai kamar itu. Pepohonan dan semak-semak melur yang tumbuh di depan kamar seolah menyempurnakan pengintaiannya. Tiba-tiba Raden Inu Kertapati merasa ada yang aneh dengan dirinya, mengendap-endap di depan kamar tamu seperti seorang pengecut. Betapapun gejolak perasaannya bercampur baur. Ia mengabaikannya.

Terus ditiliknya kamar itu dari luar, dari lubang pintu. Raden Inu Kertapi tergelak dan hampir berteriak ketika sosok-sosok yang terbaring di sana, di dalam kamar itu, bukan lagi sekelompok grup kentrung bertopeng yang gagah—yang ia jumpai sore tadi, melainkan perempuan-perempuan yang terbaring rapi dengan rambut-rambut panjang memburai. Raden Inu Kertapi masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya, ia malah merinding.

Dari balik lubang pintu, mata Raden Inu Kertapati terus menyalak mencari-cari sosok Warga Asmara. Hingga matanya mendarat pada seorang gadis yang masih terduduk di ranjangnya, menekuni sebuah boneka bergaun kain emas di tangannya. Bahu gadis itu berguncang-guncang seperti meratap. Tiba-tiba lutut Raden Inu Kertapati gemetar dan terasa lumpuh. Ia benar-benar hapal dengan dengan boneka yang dipegang gadis itu. Boneka yang ia hadiahkan untuk Galuh Chandra Kirana beberapa tahun lalu.***

Madiun, 3 Juni 20101

Catatan:

Pawitra: Nama lain dari gunung Penanggungan, sebuah gunung merapi tidur yang terletak di Mojokerto Jawa Timur.

Warga Asamara: Nama samaran dari Galuh Chandra Kirana, ketika ia menyamar menjadi seorang lelaki. Galuh Chandra Kirana juga pernah menyamar dengan nama Panji Sumirang.

Kentrung: Sebuah kesenian dari Jawa Timur yang berbentuk nyanyian, berisi cerita, sindiran, kritik, dsb. Yang diiringi dengan rebana.

Gambuh: Sebuah kesenian berbentuk total theater karena di dalamnya terdapat jalinan unsur seni suara, seni drama & tari, seni rupa, seni sastra, dan lainnya.